permainan anak

Mengenal 21 Permainan Anak Tradisional Di Dalam Dan Luar Negeri Beserta Cara Memainkannya

Masa kanak-kanak adalah masa yang paling menyenangkan bagi sebagian besar orang. Betapa tidak, di masa ini kita belum diharuskan memikul tanggung jawab besar sebagaimana orang dewasa. Punya banyak waktu santai yang bisa digunakan untuk bermain dengan teman-teman. Begitu banyak permainan anak yang melegenda dan sangat seru dimainkan. Sayangnya sejak kemajuan teknologi menyapa manusia, permainan-permainan tradisional mulai ditinggalkan. Anak-anak mulai beralih ke permainan digital yang melibatkan gadget-gadget mutakhir.

Di Indonesia, banyak sekali jenis permainan anak tradisional yang pernah populer di zamannya. Beberapa di antaranya juga dimainkan di luar negeri. Dari semua permainan tradisional yang pernah ada, sebagian masih dimainkan di zaman sekarang. Selebihnya nyaris tak dikenal lagi oleh anak-anak zaman milineal. Untuk mengenang permainan-permaian legend tersebut, simak beberapa contohnya berikut ini. Siapa tahu salah satunya adalah permainan favorite Anda di masa kecil.

1.Tarik Tambang

Permainan tarik tambah telah dimainkan oleh anak-anak pada zaman pra kemerdekaan. Dibutuhkan dua regu dengan jumlah pemain yang sama pada masing-masing regu. Kedua regu dipisahkan oleh garis pembatas yang ditandai di tanah oleh seorang wasit. Dalam posisi berhadapan, kedua regu memegang seutas tali tali tambang yang sama.

Ketika wasit memberi kode “Mulai” maka kedua regu berusaha menarik tambang sekuat tenaga hingga regu lawan tertarik ke depan. Setiap regu yang mampu menarik lawan sampai melewati garis pembatas, maka regu itulah yang dianggap sebagai pemenang.

Permainan ini sangat menguras tenaga, namun sangatlah seru untuk dimainkan. Secara tersirat, permainan tarik tambang mengajar anak-anak arti kekompakan dan solidaritas. Walau kini cukup langka, tetapi kita masih bisa menyaksikannya di event-event nasional seperti perayaan 17 Agustus. Bahkan, dimainkan oleh orang dewasa.

2. Congklak

Congklak sebetulnya bukan permainan asli Indonesia, melainkan  diadaptasi dari tradisi Arab dan Afrika. Diduga, pedagang-pedagang Arab yang berniaga di Indonesialah yang memperkenalkan permainan yang satu ini. Bukan hanya di Indonesia saja, congklak juga dikenal hingga ke Filippina dengan nama lain Sungka.

Permainan congklak menggunakan papan khusus yang mempunyai 14 lubang berhadapan. Sebelum permainan dimulai, tiap-tiap lubang harus diisi dengan 7 biji, kerikil, atau cangkang keong kecil, kecuali lubang terluar pada sisi kiri dan kanan atau disebut dengan istilah lumbung. Konon di Timur Tengah, congklak menjadi permainan yang sangat disukai keluarga kerajaan. Karena itu, papan congklak dirancang sedemikian apik dan mewah.

Congklak dimainkan berpasangan. Keduanya duduk berhadapan dengan papan congklak yang telah diisi biji/cangkang keong. Lubang-lubang yang berada di hadapan serta lumbung sebelah kiri dari kedua pemain dianggap sebagai milik masing-masing. Lalu, masing-masing mengambil tujuh biji dari lubang manapun yang menjadi milikinya dan menjatuhkan satu per satu biji tersebut ke dalam lubang-lubang lain secara berurutan serta searah jarum jam.

Jika biji terakhir jatuh pada lubang kosong milik lawan, maka pemain yang bersangkutan tidak boleh meneruskan permainan. Tunggu hingga lawan mengalami hal serupa baru bisa main kembali. Tetapi, bila biji terakhir jatuh pada lubang sendiri yang kosong, maka isi dari lubang lawan yang berada di hadapannya boleh ikut diambil dan dikumpulkan di dalam lumbung. Semakin sering berjalan semakin banyak isi lumbung. Siapa yang lubangnya paling duluan habis dan lumbung terbanyak maka dialah yang disebut pemenang.

3. Boi-Boian

Sama halnya dengan tarik tambang, boi-boian juga dimainkan secara beregu. Masing-masing regu terdiri dari 4-5 orang. Permainan ini membutuhkan alat berupa bola kasti dan pecahan genteng atau batu-batu berukuran sedang yang dapat disusun tegak. Salah satu regu bertugas untuk menghancurkan susunan batu tersebut dengan lemparan bola, sedangkan regu satunya lagi berusaha untuk menyusunnya kembali hingga menjadi bentuk semula.

Sebelum menentukan regu mana yang bertugas sebagai penghancur atau penyusun, diperlukan semacam pertaruhan. Misalnya tebak koin. Regu yang benar berhak melempar susunan batu (A). Sedangkan yang kalah harus menyusunnya kembali (B). Namun  tentu tidak semudah yang dibayangkan. Regu (A) akan mengincar satu per satu anggota regu B dengan lemparan bola. Bila salah satu anggota dari regu A terkena lemparan bola sebelum batu selesai disusun, maka regu A dinyatakan kalah. Sebaliknya, jika regu A berhasil menyusun seluruh batu tanpa seorang pun anggotanya yang terkena lemparan bola, maka dinyatakan menang.

Baca: Mengenal Tote Bag

Permainan ini lebih sering dimainkan anak laki-laki. Sebab membutuhkan ketangkasan untuk mengelak dari lemparan bola serta kekuatan berlari.

4. Bola Bekel

Kebalikan dari Boi-boian, bola bekel menjadi permainan anak perempuan yang sangat mengasyikkan. Permainan ini membutuhkan sebuah bola seukuran bola pingpong, namun lentur. Biasanya bola yang terbuat dari karet. Selain itu dibutuhkan sekitar 6 biji buah atau kerikil. Teknis permainannya dimulai dengan menggenggam seluruh biji beserta bola sekaligus. Lalu bola dilambungkan dan biji di serak. Tiap bola memantul di lantai, tangan dengan sigap harus mengambil bebijian tersebut satu per satu.

Permainan bola bekel dibagi 4 level berdasarkan tingkat kesulitannya. Pada level pertama, bebijian diambil satu per satu, kemudian sekali dua, lalu sekali tiga. Jika level ini lolos, pemain boleh melanjutkan level kedua dengan posisi yang berbeda yakni miring ke kiri, level ketiga miring ke kanan, dan level terakhir yang tersulit karena pemain harus melakukannya dalam posisi telungkup.

Di korea juga punya permainan tradisional seperti bola bekel. Namanya Kongki Noli. Hanya saja versi bermainnya sedikit lebih susah karena menggunakan bola biasa, bukan bola karet yang lentur. Jadi sangat membutuhkan kecepatan menangkap bola dan mengambil biji lebih baik lagi

5. Engklek

Engklek termasuk jenis permainan unisex atau dapat dimainkan oleh anak laki-laki ataupun perempua. Namun kebanyakan yang memainkannya adalah anak perempuan. Sebelum memulai permainan ini, pemain harus menggambar sebuah pola khusus di atas bidang datar semisal tanah atau lantai. Pola tersebut bisa berupa susunan beberapa buah persegi atau gabungan antara persegi, setengah lingakaran, segitiga dan sebagainya.

Setiap pemain akan dibekali batu pipih atau di beberapa daerah disebut ucak. Permainan diawali dengan hom-pim-pa terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang duluan melompat. Yang menang, boleh melempar batunya pertama kali ke dalam kotak-kotak terpola tersebut. Baru kemudian pemain melompati kotak demi kotak menggunakan satu kaki saja tanpa boleh tersentuh garis. Begitu juga batu yang menyentuh garis atau keluar dari garis akan dianggap gagal.

6. Engrang

Permainan engrang populer di kalangan anak-anak Jawa Barat tempo dulu. Engrang merupakan permainan berjalan menggunakan bambu. Masing-masing bambu berukuran panjang sekitar 4 sampai 5 meter. Pada bagian bawah masing-masing bambu diberi pijakan setinggi 50-60 cm.

Pemain  menggunakan bambu tersebut pada kiri dan kanan dengan kaki berada di pijakan. Baru kemudian berpacu dengan pemain lainnya. Ketika bermain engrang yang paling penting adalah menjaga keseimbangan badan agar tidak terjatuh.

Baca juga: 7 Jenis Kerudung

Engrang  bisa dimainkan sendirian atau melibatkan beberapa orang sekaligus. Semakin rame akan semakin seru. Siapa yang paling dulu sampai ke garis finish, dialah pemenangnya.

7. Gasing

Permainan gasing sudah termasuk cukup langka di Indonesia. Jarang sekali permainan ini dimainkan atau diperlombakan dalam 17 Agustus atau acara-acara nasional lainnya. Padahal tak kalah mengasyikkan dengan permainan tradisional lainnya.

Gasing sendiri merupakan benda berbentu bulat dengan bagian tengah mengerucut atas dan bawah. Sehingga bisa berputar ketika diontarkan ke permukaan datar yang cukup padat. Aslinya gasing terbuat dari kayu, namun ada juga yang memmbuatnya dari material plastik. Bahkan untuk mempermanis tampilannya, disertakan pula lampu kelap-kelip yang otomatis akan menyala ketika gasing berputar.

Di bagian puncak gasing terdapat batang kecil untuk tempat melilitkan tali. Ketika tali tersebut ditarik dengan bantuan tenaga cukup kuat, gasing akan terlontar ke lantai dan berputar. Jika diperlombakan, juri akan menentukan pemenang berdasarkan gasing siapa yang dapat berputar paling lama.

8. Yoyo

Permainan anak tradisional lainnya adalah yoyo. Yoyo merupakan benda berbentuk bulat dengan bagian tengah terbelah. Belahan tersebut digunakan untuk mengikat gulungan tali. Apabila yoyo diayunkan ke bawah, tali akan terulur. Sebaliknya ketika yoyo disentak hingga terangkat, tali akan kembali bergulung.

Meski tampak mudah, bermain yoyo membutuhkan keterampilan khusus. Semakin terampil, akan semakin banyak style bermain yoyo yang dapat dikuasai.

9. Kasti

Kasti bukan hanya permainan anak saja, tapi juga salah satu cabang olahraga. Selain menyehatkan badan, permainan ini juga menumbuhkan kekompakan, solidaritas, serta jiwa sportif. Dapat dimainkan oleh anak laki-laki maupun perempuan.

Dibutuhkan dua tim untuk bermain kasti (Tim A dan Tim B). Masing-masing tim terdiri dari 5 orang atau lebih. Sebelum permainan dimulai, kedua tim melakukan hom-pim-pa atau suit jari untuk menentukan pemenang awal. Tim yang menang bertugas memukul bola. Sedangkan tim yang kalah menyebar untuk mengepung gerak lawan agar lawan tidak bisa sampai ke pos-pos yang disediakan.

Baca juga: Perbedaan Kaos Sablon dan kaos Print

Setelah bola dipukul, pemain harus berlari mencapai pos demi pos yang tersebar di lapangan, ia kembali lagi ke garis start. Sementara tim lawan menguber dengan bola. Bila pemain terkena lemparan bola sebelum sampai di pos, maka timnya dinyatakan kalah.

10. Balap Karung

Meski balap karung dikenal sebagai salah satu permainan tradisional Indonesia, tapi konon ide permainan ini lahir dari seorang misionaris Belanda. Setiap ada acara-acara perayaan Belanda, permainan balap karung pasti digelar sebagai hiburan. Pemainnya biasanya anak-anak. Namun karena sangat seru, kini orang dewasa pun ikut memainkannya.

Bermain balap karung dilakukan di sebuah lahan yang cukup luas. Sebelum dimulai, lintasan sepanjang 7-10 meter harus dipersiapkan terlebih dahulu. Semua pemain berdiri di garis start dalam posisi siap dan kaki berbungkus sarung. Begitu terdengar aba-aba “Mulai”, seluruh peserta harus melompat sekencang-kencangnya di lintasan hingga mencapai garis finis. Siapa yang duluan sampai, dialah pemenangnya.

Tidak ada aturan baku dalam menentukan jumlah pemain. Bahkan, bisa dilakukan beregu dengan sistem estafet.

11. Gobak Sodor

Gobak sodor dikenal pula dengan istilah cakbur. Tahukah Anda, ternyata permainan gobok sodor ini mulanya adalah simulasi perang yang dilakukan para prajurit Indonesia. Baru kemudian berkembang di masyarakat Sumatera Barat dan Riau sebagai permainan anak.

Gobak sodor membutuhkan banyak pemain. Setidaknya 4-5 orang dalam satu regu. Semakin banyak tentu durasi permainan semakin panjang namun seru tak terkatakan. Setiap regu punya tugas masing-masing. Satu regu bertugas menjaga gawang yang bersusun vertikal. Sedangkan regu satunya lagi bertugas menerobos gawang demi gawang secara bolak-balik, tanpa tersentuh oleh penjaga gawang. Jika ada salah satu anggota regu penerobos yang kena sentuh penjaga gawang maka giliran regu tersebut yang bertugas menjaga gawang.

Permainan gobak sodor ada kemiripan dengan permainan kabbadi di India. Bedanya, kabbadi lebih ekstrim karena terkadang antar pemain perlu bergulat lebih dulu agar bisa membobol gawang lawan.

12. Kelereng

Zaman sekarang sudah sulit menemukan anak-anak bermain kelereng. Dahulu, permainan ini menjadi salah satu permainan favorit anak-anak, terutama anak laki-laki. kelereng sendiri merupakan benda berbentuk bundar yang terbuat dari kaca. Sebagian orang menyebutnya guli. Ukurannya kira-kira sebesar biji kelengkeng. Ada yang bercorak, ada pula yang polos.

Permainan ini diperkenalkan oleh bangsa Perancis. Bukan hanya di Indonesia saja, tapi juga dimainkan hingga di Mesir dan Yunani. Peraturan permainan ini berbeda-beda, tergantung versi apa yang dimainkan. Namun intinya, pemain harus bisa menjentikkan kelerengnya hingga masuk ke dalam lubang-lubang yang tersedia.

13. Permainan Layang-Layang

Kalau yang satu ini masih cukup sering dimainkan dimana-mana, di kota maupun desa. Bahkan yang menyukainya bukan anak-anak saja, tapi juga orang dewasa. Apalagi saat ini bentuk layang-layang sudah banyak macamnya. Jadi selain untuk mainan, bisa dijadikan koleksi pula.

Selain membutuhkan keterampilan menerbangkan layang-layang, dalam bermain bermain layang dibutuhkan pula kesebaran. Sebab, permainan ini sangat bergantung pada cuaca. Jika tidak ada angin, akan sulit sekali menerbangkan layangan. Tetapi jika angin terlalu kencang pun pergerakan layangan akan sulit dikontrol.

Layangan bisa dimainkan seorang diri sebagai hiburan, bisa pula dimainkan beramai-ramai secara kompetisi. Siapa yang bisa memutuskan layangan lawan saat di udara, dialah yang dinobatkan sebagai pemenang. Saking serunya, berbagai kota di Indonesia cukup sering menggelar acara festival layang-layang.

14. Balap Tempurung/Lari Tempurung

Masyarakat tradisional ternyata sangat kreatif memanfaatkan segala sesuatu untuk dijadikan mainan. Tempurung kelapa, contohnya. Melalui benda tersebut kita mengenal sebuah permainan yang dinamakan balap tempurun/lari tempurung.

Tempurung kelapa dibelah menjadi dua bagian. Masing-masing diberi tali yang cukup panjang pada bagian tengahnya. Setiap pemain dibekali sepasang tempurung kelapa bertali. Jari kaki diselipkan ke tali seperti menggunakan sandal. Tari harus ditarik untuk dapat melangkah. Pemenang ditentukan dari siapa yang paling cepat melangkah dengan tempurung sampai ke garis finish.

15. Lompat Karet

Anak-anak perempuan di era 80-90’an, pasti tak asing dengan permainan ini.  Sayangnya kini sudah semakin jarang dimainkan. Sesuai namanya, permainan lompat karet membutuhkan seutas tali yang terbuat dari jalinan karet. Tali karet ini sangat lentur sehingga mudah direntangkan tidak menyakitkan jika terkena kulit.

Permainan ini terdiri minimal tiga orang. Dua orang bertugas memegang karet berhadap-hadapan, sedangkan yang satunya lagi bertugas melompati karet dari posisi paling rendah sampai paling tinggi. Jika tidak mampu melompati tali, maka pemain tersebut harus memberi kesempatan pada pemain lainnya.

16. Petak Umpet

Permainan legend yang satu ini bukan hanya terkenal di Indonesia saja. Di beberapa negara lain permainan ini juga populer, namun dengan nama yang berbeda. Misalnya di Inggris disebut Hide and Seek, di Perancis Chache-chache, di Korea Selatan Sumbaggoggil, di Spanyol El Escondito, dan lainnya.

Permainan petak umpet bisa melibatkan banyak pemain, bahkan tak terbatas jumlahnya. Sebelum dimulai, harus ditentukan terlebih dahulu siapa yang bertugas sebagai penjaga. Supaya adil biasanya ditentukan dengan cara hom-pim-pa atau suit jari. Yang kalah kebagian tugas untuk menjaga.

Penjaga harus menutup mata dan membelakangi pemainnya sambil berhitung 1-10. Saat penjaga memulai hitungan, semua pemain berpencar dan bersembunyi. Sampai pada hitungan ke-10, penjaga boleh membuka mata kembali dan mulai mencari dimana teman-temannya bersembunyi. Pemain yang pertama kali ketahuan jejaknya, harus menjadi penjaga berikutnya.

17. Panjat Pinang

Dahulu, panjat pinang bukan hanya dimainkan pada perlombaan saja, tetapi juga kapanpun anak-anak menginginkannya. Permainan ini tidak bisa dikatakan mudah dan tidak cocok dilakukan anak perempuan.

Cara bermainnya, beberapa orang anak harus saling panjat memanjat hingga membentuk susunan vertikal yang cukup tinggi. Anak yang berada pada susunan paling atas dipercayakan mampu mencapai puncak batang pinang dan mencabut bendera di atasnya. Hal itu sangat menyulitkan karena seluruh permukaan batang pinang dilumuri oleh pelumas supaya licin. Tak jarang, anak-anak meluncur ketika nyaris sampai ke puncak.

Di Republik Malta juga ada permainan semacam ini. Namanya Gostra. Bedanya, jika di Indonesia batang pinangnya ditegakkan, di Republik Malta dipasang dengan kemiringan 45 derajat. Tingkat kesulitannya sama saja, sebab baik di sana ataupun di sini batang pinangnya sama-sama dilumuri pelumas.

18. Terompa Panjang

Terompa merupakan sandal yang terbuat dari kayu. Di Jepang lebih dikenal dengan sebutan bakiak. Dalam permainan terompa panjang, sepasang terompa bisa digunakan lebih 3-5 orang sekaligus. Namun untuk dapat melangkah bersamaan, dibutuhkan keseimbangan tubuh yang bagus serta pengaturan kecepatan langkah yang seimbang. Jika satu orang saja tidak menguasai permainan ini, maka satu tim bisa roboh/jatuh.

Permainan terompa panjang termasuk permainan tradisional yang masih cukup sering dimainkan atau diperlombakan. Tak hanya anak-anak saja, orang dewasa pun menyukai permainan ini.

19. Hulahop

Hulahop atau simpai merupakan benda berbentuk lingkaran besar yang terbuat dari bambu atau plastik. Lingkaran tersebut dikalungkan di pinggul, lalu pinggul bergoyang sedemikian rupa agar lingkaran tidak melorot ke bawah. Bermain hulahop bisa dilakukan sendirian, bisa juga bersama teman-teman. Kriteria pemenang ditentukan berdasarkan siapa yang bisa paling lama bisa menggoyang lingkaran bambu tanpa terjatuh sama sekali.

20. Dorong Ban

Tempo dulu bekas pun ternyata bisa dimanfaatkan untuk sebuah permainan mengasyikkan. Ban tersebut dimainkan dengan cara didorong menggunakan tongkat kayu. Letak kesulitannya, ban tidak boleh bergulir melewati garis. Jadi pemain harus benar-benar mengarahkan bannya supaya tetap bergulir lurus. Siapa yang lebih dulu sampai ke garis finish, sudah pasti dialah pemenangnya.

21. Ketapel

Ketapel merupakan kayu yang dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai huruf “Y”. Di kedua ujung cabang kayu, dipasang karet beserta potongan kain. Benda ini mulanya diciptakan sebagai senjata sederhana untuk berburu burung di hutan. Namun karena berburu burung mengasyikkan, kegiatan tersebut dianggap bagian dari permainan oleh anak-anak.

Dibutuhkan semacam benda kecil untuk melukai target. Biasanya berupa kerikil atau buah-buahan yang cukup keras. Kerikil tersebut ditempatkan pada potongan kain di tengah karet. Lalu karet ketapel ditarik sejauh mungkin kemudian dilepas hingga kerikil terlontar mengenai sasaran.

Bermain ketapel memang seru. Namun cukup membahayakan jika tidak dilakukan dengan hati-hati. Salah bedil, bisa-bisa mata atau kepala teman jadi sasaran. Itulah sebagian contoh permainan anak yang pernah populer di zamannya. Semoga suatu saat nanti permainan ini akan dimainkan kembali sebagai upaya membuat anak-anak bergerak lebih aktif dan mengurangi ketergantungan pada gadget.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *