pakaian adat

2 Ragam Jenis Pakaian Adat Yang Dimiliki Indonesia

Indonesia menjadi satu negera yang sangat kaya akan adat dan budaya. Keragaman adat dan budaya ini pun kemudian menciptakan banyak hal yang juga beragam, seperti bahasa daerah, adat dan budaya lokal termasuk juga pakaian adat.

Pakaian adat ini menjadi ciri khas dan juga simbol yang akan membedakan satu daerah dengan daerah lain yang ada di wilayah nusantara. Keberadaan pakaian adat mencerminkan bagaimana budaya dan filosofi kehidupan yang ada di setiap daerah. Dengan banyaknya daerah yang ada di dalam negeri, menciptakan pula beragam jumlah pakaian adat yang dapat ditemukan di setiap daerah yang berbeda.

Pakaian Adat Indonesia

Berbagai jenis pakaian adat di Indonesia memiliki rupa dan bentuk yang sangat bervariasi dan berbeda. Mulai dari yang dikenakan oleh pria dan juga wanita. Setiap daerah memiliki bentuk pakaian dan aksesoris yang berbeda.

Perbedaan ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya adalah mengenai kepercayaan. Sebagai contoh, pakaian adat Indonesia untuk daerah Sumatera, sebagian merupakan pakaian adat yang menutupi hampir seluruh bagian tubuh wanita serta sebagian pula menutupi bagian kepala atau rambut. Tentu saja budaya ini sangat dipengaruhi oleh agama Islam yang masih sangat kental terasa di wilayah ini yang notabene menjadi wilayah Melayu.

Keberadaan pakaian adat memang tak banyak dikenal oleh rakyat indonesia saat ini, terutama oleh kawula muda. Karena memang pakaian adat tak banyak dikenakan di keseharian masyarakat. Pakaian adat hanya digunakan di beberapa acara khusus, seperti ritual keagamaan, hari tertentu untuk menghormati atau perayaan tertentu serta dikenakan sebagai pakaian pengantin.

Inilah fungsi dari keberadaan pakaian adat yang ada saat ini. Tak banyak dikenakan di kehidupan keseharian karena memang menurut pandangan kebanyakan orang saat ini, pakaian adat tak seharusnya dikenakan pada aktivitas keseharian, hanya cocok untuk moment tertentu saja.

Beragam Jenis Pakaian Adat

Seperti yang telah disebutkan di atas, indonesia memiliki begitu banyak jenis pakaian adat di setiap wilayahnya. Saat ini, Indonesia memiliki 33 provinsi dan hampir setiap provinsinya memiliki pakaian adatnya tersendiri. Berikut ini adalah beberapa contoh pakaian adat yang dapat ditemukan di wilayah tanah air.

Pakaian Adat Jambi

Jambi menjadi satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Sebagian besar penduduknya merupakan suku Melayu, karena itulah kebudayaan Melayu sangat kental terasa di daerah ini. Hal ini dapat terlihat dari beberapa warisan budaya yang ada di sana, salah satunya adalah pakain adat Jambi.

Pakaian adat Jambi dibedakan menjadi pakaian adat pria dan pakaian adat wanita. Pakaian ini terdiri dari pakaian itu sendiri serta aksesoris yang dipakai oleh keduanya. Kedua pakaian ini memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan pakaian adat dari daerah lain.

Pakaian adat Jambi yang dikenakan oleh pria terdiri atas baju kurung tanggung dengan lengan panjang serta hiasan kepala yang dikenal dengan sebutan lacak. Pakaian adat pria ini diberikan hiasan berupa sulaman dengan benang emas dan diberikan motif tagapo atau bunga yang bertabur. Bisa juga dengan motif bunga melati atau bunga berangkai. Sulaman emas pada baju kurung untuk pria Jambi ini memiliki makna  bahwa Jambi sebagai salah satu bagian Melayu memiliki tanah yang sangat subur dan kaya.

Lacak merupakan penutup kepala yang terbuat dari kain beludru dengan warna merah. Pada bagian dalam lacak diberi kertas tebal agar kain tersebut menjadi keras sehingga dapat terkesan berdiri tegak. Lacak ini pun dilengkapi dengan aksesoris yang dikenal dengan istila flora, yaitu tali runci dan bungo runci. Bungo runci merupakan hiasan bunga berwarna putih yang dirangkai menggunakan benang. Bunga ini dapat dibuat dari bunga asli atau pun juga bunga tiruan. Disebut sebagai lacak, karena penutup kepala ini dibentuk dengan bentuk segitiga di bagian depannya dan dibuat berdiri.

Untuk bagian celana, pria Jambi mengenakan celana yang dikenal dengan nama cangge. Cangge ini dibuat dari bahan yang sama dengan bahan untuk pembuatan baju, yaitu dari kain beludru berwarna merah.

Pada bagian pinggul, dililitkan kain songket dan sebagai penguat agar kain songket tidak mudah lepas, dipasangkan melingkar pada pinggul tersebut sabuk kuningan. Sabuk ini pun tidak hanya berfungsi untuk menguatkan namun juga sebagai tempat untuk menyelikan keris sebagai senjata tradisional Provinsi Jambi yang juga dikenakan sebagai pelengkap pakaian Adat pria Jambi ini.

Selain pakaian, lacak dan juga celana, pakaian adat Jambi juga dilengkapi dengan aksesoris pria. Aksesoris ini berupa tutup dada yang berbentuk bunga teratai, karenanya dikenal dengan sebutan teratai dada. Tutup dada ini dipasang melingkar pada bagian leher selayaknya seperti kerah baju.

Selain tutup dada, pria Jambi juga mengenakan gelang pada pergelangan tangannya. Gelang ini terbuat dari logam celupan dengan motif naga kuning. Motif ini mengandung makna kekuasaan yang tak dapat tergoyahkan.

Aksesoris lain yang dipakai pria Jambi adalah selempang berwarna merah yang dipakai menyilang badan dan dibuat dari kain songket sebagaimana kain yang dipakai pada kain penutup celana. Agar penampilan pria Jambi semakin memperlihatkan kesan kebesaran dan kekuasaan, aksesoris tambahan berupa keris juga dikenakan. Keris ini dipasangkan pada bagian sabuk pada pinggul atau perut dengan posisi serong ke kanan. Sebagai alas kaki, pria Jambi mengenakan selop yaitu alas kakai berbentuk setengah sepatu untuk melindungi kaki saat berjalan dan juga tetap memperlihatkan kesan yang rapi dan menawan.

Untuk pakaian adat wanita Jambi, ada beberapa bagian. Sama halnya dengan baju yang dikenakan oleh pria Jambi, pada pakaian adat wanita Jambi, bagia atasnya mengenakan baju kurung tanggung dengan lengan yang tak sepanjang lengan pria, yaitu hanya sampai pada bagian bawah siku saja dan tak sampai pada pergelangan tangan.

Baju wanita Jambi ini terdiri atas kain dan selendang yang keduanya terbuat dari kain songket berwarna merah dengan diberikan tambahan sulaman di atas dari benang berwarna emas. Ada beberapa motif yang digunakan pada sulaman untuk hiasan ini, sebut saja motif bunga melati, pucuk rebungd an juga bunga tagapo atau bunga bertabur.

Sama halnya dengan pria, wanita Jambi juga menggunakan penutup kepala dengan bentuk segitu di bagian depannya atau yang dikenal dengan istilah lacak. Namun, untuk penutup kepala wanita ini dikenal dengan sebutan pesangkon. Konsep pesangkon hampir sama dengan lacak untuk pria, yaitu terbuat dari kain beludru berwarna merah dengan diberi kertas karton di bagian dalamnya agar penutup kepala ini bisa berdiri tegak di bagian depannya.

Sebagian masyarakat Jambi menyebut hiasan ini dengan sebutan duri pandan hal ini karena adanya hiasan yang berbentuk duri pandan berwarna kuning. Warna kuning ini berasal dari logam yang ditempatkan pada bagian depan. Untuk mempercantik penampilan pada penutup kepala ini, diberikan juga sulaman emas dengan motif bunga melati pecah. Gunanya adalah untuk mempercantik penampilan si wanita.

Pada bagian bawah, pakaian adat wanita Jambi merupakan satu buah rok yang menjulur sampai ke bawah mata kaki. Jenis kain yang digunakan serupa dengan kain songket sebagai hiasan sarung yang dikenakan oleh pria Jambi.

Untuk aksesoris pakaian adat wanita Jambi tentu lebih banyak dan beragam dibandingkan dengan yang dikenakan si pria. Ada anting-anting kalung, cincin, gelang, dan juga ikat pinggang. Anting-anting wanita Jambi dikenal juga dengan sebutan antan yang dibuat dengan motif kupu-kupu. Kalung yang dikenakan wanita banjar terdiri atas tiga bagian, yaitu kalung tapak, kalung bertingkat atau dikenal dengan kalung jayo dan juga kalung rantai sembilan. Tiga jenis kalung ini digunakan secara bersamaan dan dipasang di bagian dada si wanita.

Selain aksesoris kalung dan anting-anting, wanita Jambi juga mengenakan cincin pada jari-jemari mereka. Ada dua jenis cincin yang dipakai yaitu cincin pacat kenyang dan cincin kijang atau cincin capung.  

Aksesoris pada pakaian adat wanita Jambi yang paling banyak dikenakan adalah gelang, gelang ini tak hanya dikenakan di pergelangan tangan namun juga di pergelangan kaki. Untuk gelang yang dikenakan di tangan cukuplah banyak. Sebut saja, gelang kilat baju yang di setiap bahu ada dua buah gelang kano, gelang ceper dan juga gelang buku beban. Semua gelang ini dipasangkan di setiap lengan si wanita. Untuk gelang yang dikenakan di kaki, ada gelang  nago betapo dan ular melingkar.

Aksesoris lain yang tak kalah pentingnya untuk pakaian adat wanita Jambi adalah ikat pinggang. Ikat pinggang ini pun dibuat dengan warna emas dan dipasangkan pada bagian luar baju kurung tanggung. Selain itu, beberapa aksesoris tambahan juga hampir serupa dengan apa yang dikenakan oleh pria Jambi seperti penutup dada dalam motif teratai yang dikenal sebagai teratai dada serta selop atau alas kaki seperti sepatu yang terbuka pada bagian belakangnya.

Untuk saat ini, pakaian adat Jambi ini hanya dikenakan pada beberapa acara khusus dan juga untuk pengantin Jambi. Sebagian pengantin memilih untuk mengenakan pakaian adat Jambi ini dengan tujuan mempertahankan dan melestarikan warisan budaya ini.

Pakaian Adat Bali

Pakaian adat kedua yang akan dibahas adalah pakaian adat Bali. Bali menjadi satu pulau di nusantara yang begitu terkenal di seluruh dunia karena keindahannya. Banyak wisatawan asing yang datang ke Indonesia untuk datang ke Bali. Bahkan, keindahan pulau Bali ini menyebabkan Bali disebut dengan sebutan Pulau Dewata.

Sebagaimana kebanyakan wilayah lain yang ada di nusantara, masyarakat Bali pun juga memiliki pakaian adat yang menampilkan budaya dan adat yang ada di sana. Karena sebagian besar penduduk Bali memeluk agama Hindu, pakaian adat yang dikenakan oleh penduduk Bali pun mencerminkan kepercayaan mereka ini yaitu banyak dipengaruhi oleh agama Hindu tersebut.

Untuk pakaian pria, mengenakan baju atasan yang terkesan bersih dan rapi. Baju ini tertutup layaknya baju safari. Pada bagian bawah, yang dikenakan oleh pria Bali disebut dengan istilah Kamen. Kamen adalah celana yang dikenakan oleh pria Bali berupa kain sepanjang 2 meter dengan lebar 1 meter. Kain ini dikenakan dengan cara diikatkan pada pinggar secara melingkar dari sisi kiri ke kanan. Kain ini harus dipakai menjulur ke bagian bawah sampai sejengkal dari telapak kaki dan pada bagian ujung, dibentuk secara lancip menghadap ke bawah.

Ikatan pada pinggang bermakna sebagai darma sedangkan ujung lancip di bagian bawah kamen bermakna sebagai lambang penghormatan kepada ibu pertiwi.

Selain kamen, pada bagian bawah pakaian adat pria Bali terdapat saput atau dikenal dengan istilah lain yaitu kampuh. Saput ini merupakan kain penutup pada bagian bawah yang juga diikatkan ke pinggang secara melingkar  dengan arah berlawanan jarum jam. Saput ini merupakan kain dengan desain klasik. Penggunaanya adalah untuk ibadah dan juga menutupi bagian tubuh pria Bali.

Selain dua bagian kain ini, pada bagian bawah pakaian adat pria Bali dikenakan pula Umpal atau semacam selendang pengikat. Fungsinya adalah untuk menguatkan ikatan kamen dan saput. Umpal ini biasanya berukuran seperti selendang kecil dan diberi warna kuning.

Ikatan yang ada pada umpal melambangkan simpul kehidupan yang diletakan pada sisi kanan. Cara mengikatnya pun memiliki makna bahwa pria Bali haruslah mampu untuk mengendalikan semua hal buruk yang ada pada seluruh kesehariannya.

Selain itu, terdapat pula aksesoris yang dikenakan sebagai pelengkap pakaian adat Bali ini, yang paling mencolok adalah udeng. Udeng ini merupakan aksesoris yang digunakan di bagian kepala. Udeng atau ikat kepala ini pun menjadi ciri khas dari pakaian adat Bali ini.

Udeng banyak digunakan saat ibadah dan juga aktivitas keseharian. Udeng dibuat dari kain batik dan dikenakan dengan bentuk yang unik yaitu diberikan simpul pada bagian tengah di mana simpul ini bermakna bahwa pemakai udeng haruslah mampu untuk berpikir secara jernih serta memusatkan pemikirannya saat sedang beribadah.

Selain aksesoris kepala, pria Bali uga mengenakan beberapa aksesoris lainnya, terutama pada saat pernikahan, aksesoris ini seperti keris dan juga alas kaki.

Untuk pakain adat wanita Bali memiliki kesamaan dengan pakaian adat pria Bali. Pada bagian atas, terdapat kebaya, kamen dan juga selendang. Semuanya hampir mirip dengan pakaian untuk pria Bali. Yang sedikit membedakan antara pakaian pria dan wanita Bali adalah pada penggunaan aksesorisnya. Wanita Bali mengenakan bulu pasang untuk lebih menguatkan ikatan kamen. Bulu pasang ini adalah selendang berwarna kuning yang diikatkan di baian pinggang. Makna penggunaan bulu pasang ini adalah untuk menjaga rahim si wanita dan juga mengendalikan dirinya dari tingkah laku yang keluar dari norma dan budaya Bali.

Hal lain yang berbeda adalah dari penggunaan sanggul. Sanggul wanita Bali sedikit berbeda dengan kebanyakan sanggul yang ditemukan di daerah lain. Terdapat 3 jenis tata gaya penggunaan sanggul oleh wanita Bali, sebut saja pusung gonjer, pusung tagel dan pusung kekupu. Ketiganya pun dikenakan oleh tiga jenis wanita Bali yang berbeda. Pusung gonjer dikenakan oleh wanita Bali yang masih lajang atau belum menikah, pusung tagel dipakai oleh wanita Bali yang sudah menikah sedangkan pucug kekupu dikhususkan oleh janda Bali.

Selain sanggul, pada bagian atas juga dikenalan aksesoris lain dengan fungsi mempercantik dan juga sebagai sarana ibadah. Sebut saja adanya setangkai bunga yang diselipkan pada bagian telinga atau rambut. Bunga yang dipilih adalah bunga cempaka putih, kuning dan juga bunga kamboja.

Inilah dua contoh dari pakaian adat yang dapat ditemukan di wilayah nusantara. Selain dua jenis ini, masih terdapat banyak sekali jenis pakaian adat di beberapa provinsi yang ada di tanah air.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *