Ciri-Ciri Baju Anak Yang Nyaman Dipakai Si Kecil

Ciri-Ciri Baju Anak Yang Nyaman Dipakai Si Kecil

Punya anak memanglah suatu anugerah yang tak tertandingi nilainya. Kehidupan keluarga menjadi lebih semarak dengan hadirnya seorang anak. Para Ibu juga punya kesibukan baru yang seru karena hari-hari bukan lagi hanya mengurus kebutuhan suami, tapi juga kebutuhan si kecil. Salah satunya kebutuhan akan pakaian. Baju anak-anak kerap membuat gemas. Model dan motifnya yang lucu-lucu bikin para ibu ingin memborong semuanya. Sayangnya, tidak semua baju yang terlihat menarik itu nyaman dikenakan. Maka, Anda perlu tahu bagaimana sih ciri-ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil. Selain berguna untuk kenyamanan anak saat mengenakannya, hal tersebut juga menghindari Anda dari risiko kerugian akibat salah beli.

Baju anak perempuan dengan laki-laki tentu tidak bisa disamakan. Sayangnya sebagian ibu terkadang tidak memedulikan hal itu. Sehingga ada anak perempuan yang dipasangkan baju anak laki-laki. Begitu pula sebaliknya. Bagi anak-anak mungkin itu bukan suatu masalah karena pemahaman mereka terhadap cara dan etika berbusana belum memadai, namun di mata orang dewasa tentu tidak menarik untuk dilihat. Padahal dengan memasangkan baju yang nyaman dan tepat, secara tidak langsung Anda turut membantu menonjolkan karakter si anak itu sendiri.

Supaya tidak terjadi kekeliruan dalam memilih baju untuk anak, yuk pelajari ciri-ciri baju anak yang nyaman di pakai si kecil seperti berikut ini.

1.Bahan yang nyaman

Ciri pertama yang mudah terlihat dan dipertimbangkan adalah bahan baju itu sendiri. Anak-anak di bawah usia 2-3 tahun cenderung belum mampu mengungkapkan perasaannya sendiri. Apakah ia merasa nyaman atau tidak dengan segala sesuatu yang melekat di badannya. Maka orang tualah yang semestinya peka. Untuk anak perempuan, cukup banyak pilihan bahan pakaian baju sehari-hari yang dapat digunakan. Baju-baju anak perempuan yang nyaman biasanya menggunakan bahan kaos, katun, spandek, dan rajut halus.

Selain ringan di badan, bahan-bahan tersebut cocok dikenakan di Indonesia yang beriklim tropis ini. Sedangkan baju anak laki-laki pilihan bahannya agak terbatas. Katun dan  kaos, adalah dua pilihan terbaik untuk mereka. Sebab anak laki-laki dominan lebih aktif ketimbang anak perempuan. Jadi mereka membutuhkan bahan yang benar-benar mumpuni dalam menyerap keringat.

Baju berbahan waffle dan organza (biasanya lebih sering diperuntukkan khusus anak perempuan) kurang mencirikan kenyamanan. Waffle terlalu tebal dan berat untuk anak-anak yang sedang aktif-aktifnya bergerak. Sedangkan organza yang sering kita lihat pada baju-baju pesta merupakan kain yang cukup sulit menyerap keringat.

2. Model Yang Tidak Ribet

Ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil kedua juga dapat dilihat dari modelnya. Walau outfit anak perempuan lebih fleksible, namun model pakaian sehari-hari hendaknya tidak terlalu ribet. Potongan simple seperti gaun sebatas lutut (baby doll), baju lengan buntung (you can see), atau T-shirt, pastilah paling nyaman di badan. T-shirt boleh dipadukan dengan skirt  A-line sekitar 2 senti di atas lutut. Atau, bisa juga dengan legging ataupun celana pendek. Untuk pakaian sehari-hari, tak perlu menggunakan model yang terlalu heboh seperti rok tutu atau gaun-gaun kembang dan berfuring. Semakin sederhana modelnya, semakin membuat anak leluasa.

Khusus untuk baju anak laki-laki, kaos dan kemeja simple selalu jadi model unggulan. Untuk aktivitas sehari-hari yang lebih spesial, kaos bisa dikenakan bersama overall atau suspender dan celana panjang. Sedapat mungkin hindari baju-baju berbahan jeans. Anak-anak belum terlalu cocok menggunakan bahan jeans karena tekstur kainnya cenderung kaku, kasar, dan berat.

3 . Ukuran Baju

Ukuran baju juga dapat mencirikan nyaman atau tidaknya sebuah baju. Baju-baju yang nyaman biasanya memiliki ukuran yang tidak terlalu ngepas di badan, juga sebaliknya. Terdapat celah sekitar 2-3 senti antara kulit dengan kain. Baju-baju yang berukuran terlalu pas, dapat menimbulkan gesekan pada kulit anak dan berisiko menyebabkan iritasi. Apalagi bila cuaca sedang panas, sirkulasi udara jadi terhambat. Sehingga keringat anak terjebak di dalam dan mengundang berkembang biaknya kuman. Sementara jika kedodoran, membuat anak jadi repot bergerak dan kepanasan.

4. Kualitas Jahitan

Pattern dan cuttingnya rapi. Baju yang nyaman dapat diidentifikasi dari pattern/pola dan jahitannya. Banyak baju yang menggunakan bahan bagus, tetapi gagal di polanya. Sehingga membuat anak kurang nyaman ketika mengenakannya. Begitu juga dengan kualitas jahitan. Jahitan yang kurang rapi dapat mengurangi kenyamanan sebuah baju. Bagaimana tidak? Baru dipakai sebentar eh tahu-tahu jahitannya lepas.

5. Perhatikan Label Pemeliharaan Baju

Ada label khusus di bagian dalam baju yang bertuliskan keterangan singkat mengenai bahan baju dan cara pencucian.

6. Harga Baju

Ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil berikutnya bisa dikenali dari harganya. Memang, tak selamanya harga mampu mewakilkan kualitas suatu baju. Akan tetapi kebanyakan baju-baju bermutu dibandrol dengan harga tinggi. Sebab, untuk menghasilkan sebuah baju terbaik dengan bahan pilihan serta cutting yang rapi tentu butuh ongkos produksi yang cukup besar.

Sesekali, Anda perlu membandingkan baju anak yang dijual di emperan dengan yang ada di toko besar. Sejauh mana perbedaan kualitas serta masa pakai baju tersebut. Pasti yang dibeli di toko besar rata-rata lebih nyaman dikenakan si kecil dan tahan lama. Pattern dan cuttingnya pun begitu rapi.

Kesalahan Orang Tua Ketika Memilih Baju Anak Perempuan Dan Laki-laki

Ketidaktahuan orang tua terhadap pakaian apa yang pantas untuk anak bisa disebabkan oleh beberapa alasan. Misalnya, kurang referensi bacaan. Seorang ibu yang jarang membaca, dipastikan khasanah pengetahuannya kurang luas. Sehingga ide-idenya pun terbatas dan cenderung ketinggalan zaman. Sementara ibu yang rajin menggali informasi melalui buku-buku, majalah, artikel, dan sebagainya, lebih kreatif dan punya pengetahuan yang cukup baik dalam mengurus buah hati. Termasuk memilih pakaian terbaik untuk anak-anaknya.

Faktor lainnya, kemungkinan besar bisa disebabkan karena faktor ekonomi. Keterbatasan finansial seringkali mengikat kebebesan para ibu untuk memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Niat hati ingin membelikan baju dengan bahan yang soft, namun karena terbentur harga terpaksa niat tersebut  terkubur. Mau atau tidak, baju dengan mutu seadanya yang dipersiapkan. Asal anak pakai baju, itu sudah cukup. Begitu kira-kira prinsip yang digunakan.

Lantas, apa saja contoh keselahan dalam memilih baju anak perempuan dan laki-laki? Ini beberapa hal yang sering terjadi:

1.Memilih Baju Yang Bukan Ukuran Badan Anak

Banyak orang ibu yang sengaja membeli baju anak dengan size 1-2x lebih besar dari tubuh anak. Keputusan tersebut dilatarbelakangi alasan agar baju tersebut tidak lekas sempit atau ngatung, sebab anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan. Dengan membelikan baju yang ukurannya 1-2x lebih besar dari tubuh anak, maka tidak perlu sering-sering lagi membeli baju.

Alasan tersebut memang tidak keliru sepenuhnya. Hanya saja, baju dengan ukuran yang terlampau besar bukan ciri-ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil. Alih-alih untuk berhemat, tapi kita dengan sengaja mengabaikan kenyamanan anak saat menggunakannya.

Baju yang sizenya melampaui ukuran tubuh anak membuat anak cepat merasa gerah dan sulit bergerak. Pun, bagian-bagian tertentu tidak terletak pada tempatnya. Misalnya, batas bahu jadi turun, lingkaran leher kedodoran ke samping, dan sebagainya.

2. Sengaja Memilih Baju Unisex

Unisex adalah istilah yang mengandung arti bebas dipakai oleh pria maupun wanita. Sebagian ibu yang punya banyak anak biasanya sengaja membeli baju yang sifatnya unisex. Jadi satu baju bisa dipakai bergantian baik untuk anak perempuan maupun laki-laki. Biasanya, baju yang seperti ini berjenis T-shirt polos. Baju-baju polos memang bisa diperuntukkan bagi semua jenis kelamin dan dalam berbagai kebutuhan. Tapi sayangnya, kurang memberi kesan ceria dan energik pada tampilan anak. Sehingga gaya anak tampak sangat monoton.

Padahal, hanya di usia anak-anaklah Anda bisa berkreasi atas tampilan mereka. Kelak setelah mereka beranjak besar dan bisa mengurus penampilan mereka sendiri, Anda tak punya kesempatan lagi untuk mencampuri style mereka.

3. Lebih Mengutamakan Model Ketimbang Bahan Baju

Ini juga kesalahan yang paling sering terjadi saat membeli baju anak laki-laki maupun perempuan. Variasi model yang seakan tiada habisnya, tak ayal membuat hasrat ingin membeli tak pernah berhenti. Sayangnya, tak sedikit yang luluh hanya karena model suatu baju tampak begitu menarik. Sedangkan yang lainnya kurang menjadi pertimbangan, semisal bahan.

Perkembangan dunia fashion dari masa ke masa turut mempengaruhi model-model baju anak-anak. Semakin ke sini, model baju anak-anak semakin berkembang dan unik. Namun, tak semua diproduksi dengan bahan yang nyaman. Alhasil ketika dikenakan tak membuat anak menjadi betah. Entah kepanasan, gatal, dan sebagainya.

4. Tidak Sesuai Dengan Acara Atau Situasi Setempat

Menyesuaikan outfit dengan tema acara atau situasi dari tempat yang dituju sangatlah penting. Rule ini bukan hanya berlaku untuk orang dewasa saja, tapi juga anak-anak. Sebab salah kostum bukan hanya mengundang rasa malu, tapi juga menimbulkan ketidaknyamanan. Bayangkan saja, saat Anda mengajak anak-anak piknik ke pantai, tetapi Anda memakaikan mereka gaun pesta yang sangat mencolok. Sementara di pantai anak-anak ingin bebas berlari atau bermain air. Anda tentu bisa merasakan betapa tidak nyamannya mereka.

Memilih baju anak yang tepat juga memungkinkan mereka terhindar dari pengaruh buruk cuaca. Semisal, di musim dingin Anda perlu memakaikan anak baju dengan bahan yang agak tebal agar tidak mudah masuk angin. Atau, ketika Anda mengajak anak-anak berakivitas di bawah terik matahari, sebaiknya pilihlah baju yang dapat meng-cover tubuh anak dari sengatan matahari agar kulitnya tidak gosong. Namun, tetap pastikan juga bahannya mudah menyerap keringat.

5. Mendandani Anak Tidak Sesuai Usia

Kesalahan yang tak kalah fatal adalah mendadani anak mengikuti gaya orang dewasa. Bak seorang model, anak-anak dipakaikan baju-baju yang detailnya terlalu heboh, lengkap dengan aksesoris yang mencolok pula. Alih-alih membuat anak keren, yang terjadi justru si kecil jadi kelihatan lebih matang dari dari anak-anak seusianya.

Perlu diingat style orang dewasa tidak bisa diterapkan pada anak-anak. Cukup dandani mereka sewajarnya. Sebab, sisi kealamian seorang anak tidak akan bisa terulang saat mereka dewasa.

6. Tidak Melibatkan Anak Dalam Memilih Baju

Meski anak-anak dianggap belum cakap mengurus diri mereka sendiri, tetapi bukan berarti mereka tidak boleh dilibatkan dalam memilih baju yang mereka sukai. Anak-anak berusia di atas 3 tahun biasanya perlahan sudah mulai berani berpendapat. Mereka tidak selamanya setuju dengan pilihan ibu dan punya keinginan sendiri.

Jika keinginannya masih dirasa masuk akal, tida ada salahnya dipenuhi. Dengan memakai baju sesuai keinginannya, rasa percaya dirinya akan meningkat. Contohnya, anak kurang sreg dengan baju motif Barbie pilihan sang ibu. Ia lebih menyukai baju motif Mermeid yang kebetulan sedang ngetren di kalangan anak-anak seusianya. Jika terus dipaksakan menggunakan baju pilihan sang ibu, bisa-bisa anak jadi tidak nyaman.

Cara Efisien Memilih Baju Yang Nyaman Untuk Anak-Anak Khususnya Bayi

Semua orang tua punya hak mengurus anak-anaknya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Apalagi teruntuk bayi yang dari segala segi memang belum bisa diandalkan untuk mengurus dirinya sendiri. Sayangnya, kebebasan itu seringkali membuat para orang tua—khususnya ibu—kebablasan dan berakibat boros. Bukan rahasia jika baju anak-anak yang berkualitas harganya bahkan bisa lebih mahal daripada baju orang dewasa. Pasalnya, baju tingkat kerumitan membuat baju anak-anak ketimbang baju orang dewasa.

Karena itu pula, cermatlah dalam memilih baju yang nyaman untuk anak-anak Anda, terutama bayi, agar tidak sia-sia atau menumpuk di lemari pakaian. Bagaimana cara efisien tersebut? Berikut beberapa point yang bisa Anda coba lakukan:

1.Hindari Membeli Baju Dalam Jumlah Banyak Sekaligus

Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi seseorang membeli baju dalam jumlah banyak sekaligus. Pertama, karena memang kebutuhan yang mengharuskannya membeli baju lebih dari satu. Kedua, menimbang harga. Beberapa toko bersedia memberikan potongan harga yang lumayan besar jika konsumen memborong beberapa pasang baju. Ketiga, lapar mata. Alasan ketiga ini yang kerap kali membuat orang jadi bangkrut.

Selain karena alasan kebutuhan, hindari membeli baju anak dalam jumlah besar atas alasan ingin mendapat potongan harga atau sekadar lapar mata. Anak-anak dalam masa pertumbuhan cepat sekali mengalami perubahan bentuk tubuh. Jadi jangan heran jika baju anak cepat sekali berganti. Baru dibeli hari ini, beberapa bulan kemudian sudah tidak berguna lagi karena sempit. Betapa sia-sianya baju-baju yang sudah Anda borong sekaligus itu kelak?

Alangkah bijaknya jika Anda menyediakan baju secukupnya saja. Selain lebih hemat, lemari pakaian pun tidak sesak oleh tumpukan baju-baju.

2. Sedapat Mungkin Hindari Model Kancing Belakang Dan Ristleting Depan

Beberapa baju anak dirancang dengan desain berupa kancing belakang ataupun ristleting depan. Tahukah Anda bahwa penempatan kancing di belakang baju dapat membuat anak merasa risi ketika berbaring. Apalagi untuk bayi yang hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan telentang. Keping-keping kancing yang berada di belakang akan mengganjal punggungnya saat ia telentang sekaligus mengganggu pertumbuhan tulang belakang.

Sedangkan ristleting depan berisiko membuat jari anak terjepit juga gesekan di kulit dadanya. Balita umumnya mudah sekali merasa penasaran. Segala sesuatu yang terlihat olehnya pasti akan diutak-atik. Begitu pula dengan ritsleting bajunya sendiri. Saat memainkannya, ritsleting bisa saja menjepit jari mungil Anak Anda. Begitu pula dengan bagian belakang ristsleting yang biasanya agak keras dan kasar, bisa-bisa menggores dadanya.

Model baju yang paling mudah dan nyaman dikenakan adalah baju tanpa kancing. Pemakaiannya hanya tinggal sorong dari kepala saja.

3. Hindari Bahan Yang Terlalu Streetch

Beberapa jenis bahan bersifat fleksible karena kelenturannya, contohnya spandek atau nylon. Membeli baju dari kedua bahan tersebut di salah satu sisi memang menguntungkan. Sebab, tidak mudah sempit karena dapat melar mengikuti pertumbuhan tubuh anak. Buruknya, bahan streetch seperti itu sangat melekat di kulit ketika dikenakan. Sehingga tidak ada jarak antara kulit dengan kain.

Walaupun teksturnya lembut, namun tetap saja berpotensi menimbulkan gesekan di kulit. Bahkan, ancaman yang lebih serius lagi dikhawatirkan dapat mengganggu peredaran darah.

4. Kurangi Membeli Baju Yang Berkerut-Kerut

Baju dengan desain berkerut-kerut di beberapa bagian umumnya dipakai oleh anak perempuan. Model berkerut-kerut seperti itu memang menawan, tetapi kurang awet. Kerutan biasanya terbuat dari karet. Lambat laun elastisitas karet akan berkurang hingga akhirnya molor. Kalau sudah demikian, jarang ada orang tua yang mereparasi baju tersebut karena pasti keluar biaya lagi. Ujung-ujungnya baju jadi terbuang percuma.

5. Kurangi Membeli Baju Dengan Model Musiman

Trend senantiasa berganti dari masa ke masa. Ada masa dimana baju anak laki-laki bertema hero sedang ngetrend. Di lain waktu, giliran baju bercorak army yang menguasai pasar. Membeli baju hanya karena ingin mengiui arus mode saja sangat tidak dianjurkan. Begitu suatu trend surut, maka anak akan malas mengenakan baju itu lagi.

Belilah baju atas dasar kebutuhan saja. Sesekali boleh saja mengikuti trend baju yang tengah marak, namun jangan sampai keterusan. Bisa-bisa koleksi baju jadi bertumpuk tapi jarang dipakai.

Tips Menjaga Baju Anak Agar Awet Dan Tetap Nyaman Dipakai

Baju anak cenderung menggunakan bahan-bahan yang soft dan seratnya tipis. Maka dari itu merawat baju anak-anak membutuhkan perlakuan khusus. Tidak sama seperti baju orang dewasa yang lebih awet.

Supaya baju anak Anda tidak lekas rusak dan tetap nyaman digunakan sesering mungkin, ikuti beberapa petunjuk perawatan baju anak berikut ini.

  • Baca label yang tertera pada sisi bawah baju anak Anda. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, salah satu ciri-ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil adalah memiliki label khusus yang berisi keterangan singat mengenai bahan baju dan cara pencucian. Perlakuan terhadap setiap bahan baju tidak boleh disamakan. Ada bahan yang hanya boleh dicuci dengan tangan, ada juga yang tahan dengan mesin cuci. Selain itu, ada pula bahan yang harus dicuci dengan air hangat. Karena perlakuan terhadap tiap jenis kain berbeda-beda, maka produsen baju anak membantu konsumen dengan menyertakan label khusus tersebut pada baju-baju yang diproduksinya.
  • Kelompokkan baju berdasarkan warna. Baju anak-anak umumnya berwarna cerah. Terkadang, ada sebagian baju yang mudah luntur, terutama pada pencucian pertama kali. Supaya baju lain tidak terkena imbas luntur, maka baju perlu dikelompokkan sesuai warna sebelum dicuci. Selalu dahulukan baju-baju yang berwarna putih baru kemudian baju warna cerah.
  • Gunakan detergent yang berkualitas. Detergent turut mempengaruhi hasil cucian dan ketahanan warna pakaian. Usahakan menggunakan detergent berkualitas bagus untuk mencuci baju-baju anak. Detergent berkualitas memiliki butiran yang lebih halus sehingga mudah larut dalam air. Juga mengandung formula yang lebih super dalam mengangkat noda. Jadi, baju tidak perlu dikucek terlalu lama. Tinggal direndam beberapa menit saja lalu dikucek sedikit, baju pun akan kembali bersih.
  • Hindari Menggunakan Pemutih Pakaian. Rata-rata baju anak-anak pantang menggunakan pemutih pakaian sebab serat kainnya sangat halus. Penggunaan pemutih pakaian pada baju anak-anak dapat membuat baju lekas tipis.
  • Tidak boleh dijemur terlalu lama. Baju anak-anak tidak perlu dipanggang di bawah terik matahari terlalu lama. Toh, karena ukurannya pun kecil, baju biasanya lebih cepat kering. Bahkan hanya dengan diangin-anginkan saja. Baliklah baju saat dijemur untuk menghindari warnanya jadi kusam.

Itulah informasi lengkap mengenai ciri-ciri baju anak yang nyaman dipakai si kecil. Semoga artikel ini bisa menjadi salah satu referensi untuk para ibu sekalian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *